3/06/2020

Manfaat Dan Cara Latihan Menggunakan Ladder Agility


Menurut Sucipto Dkk (2000:7-8) sepakbola merupakan permainan beregu, masing masing regu terdiri dari sebelas pemain dan salah satunya penjaga gawang. Permainan ini hampir seluruhnya dimainkan dengan menggunakan tungkai, kecuali penjaga gawang yang dibolehkan menggunakan lengannya di daerah tendangan hukumannya. Tujuan utama permainan sepakbola adalah sebagai mediator untuk mendidik anak agar kelak menjadi anak yang cerdas, terampil, jujur, dan sportif. Selain itu dari permainan sepakbola diharapkan akan tumbuh dan berkembang rasa persaingan (competition), kerja sama (cooperation), interaksi sosial (social interaction) dan pendidikan moral (moral education).

Menurut Luxbacher (2004:1) unsur utama pada permainan sepakbola meliputi kelenturan tubuh atau gerakan badan, ketangkasan, kelincahan, ketahanan aerobic, dan kekuatan otot. Menurut wahjoedi (2001:61) Kelincahan atau agility adalah kemampuan tubuh untuk mengubah arah secara cepat tanpa adanya gangguan keseimbangan atau kehilangan keseimbangan. Kelincahan itu sangat penting dalam bermain sepakbola, seperti untuk menjaga atau melepaskan jagaan lawan, melewati lawan, dan masih
banyak lagi manufer-manufer yang membutuhkan unsur kelincahan dalam permainan sepakbola. Sucipto dkk (2000:11).

Manfaat Dan Cara Latihan Menggunakan Ladder Agility

Berdasarkan observasi yang telah lakukan penulis pada klub sepakbola SSB SPN U-17 Pekanbaru, yang penulis lihat masih kurangnya kelincahan pada pemain sepakbola SSB SPN U-17 Pekanbaru. Hal tersebut dapat terlihat dari beberapa kali pertandingan terjadi kekalahan baik dalam pertandingan uji coba maupun pertandingan resmi. Para atlet tampak kewalahan mengejar bola dari lawan yang lebih lincah dan cepat dalam melewati nya, sebaliknya atlet sangat sulit melewati lawan diakibatkan kurang lincah dan atlet SSB SPN U-17 Pekanbaru sangat lambay untuk merubah posisinya saat teman menguasai bola. Sehingga faktor kelincahan disini merupakan masalah yang serius sehingga berujung pada kekalahan tim SSB SPN U-17 Pekanbaru.

Untuk memperkuat argumen peneliti mengambil studi awal/test awal dengan 3 orang atlet SSB SPN U-17 Pekanbaru yang dipilih secara acak menggunakan Illinois Agility Test dan Soccer Dribble Test untuk menentukan formula mana yang tepat diberikan serta dibutuhkan pada atlet SSB SPN U-17 Pekanbaru ini, dan didapat data awal bahwa benar mereka sangat kurang baik (waktu) dalam melakukan Illinois Agility Test. Maka dari itu peneliti tertarik untuk memberikan latihan yang dapat meningkatkan kelincahan atlet SSB SPN U-17 Pekanbaru ini.

Menurut Lee E. Brown dkk (2005:102-110) adapun latihan untuk meningkatkan kelincahan, yaitu : latihan side right-in (agility ladder drill), in-out shuffle (agility ladder drill), icky shuffle (agility ladder drill), snack jump (agility ladder drill), S-drill, V-drill, 10-cone snake drill. Sehingga penulis ingin meneliti salah satu bentuk latihan diatas untuk meningkatkan kelincahan atlet SSB SPN U-17 Pekanbaru dengan memberikan latihan in out shuffle (agility ladder drill). Berdasarkan permasalahan diatas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul: Pengaruh Latihan In Out Shufle “Agility Ladder Drill” Terhadap Kelincahan SSB SPN U-17 Pekanbaru.

Jika ingin sukses dan memperoleh prestasi yang maksimal harus perbanyak latihan, karena tidak ada atlet yang langsung jadi tanpa proses latihan. Menurut Harsono (1988:100-101) ada 4 aspek latihan berdasarkan tujuan dan unsur yang akan dilatih, yaitu :

1. Latihan Fisik
Latihan fisik adalah latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kondisik fisik yaitu faktor yang sangat penting bagi setiap atlet. Tanga kondisi fisik yang baik atlet penting tidak akan dapat mengikuti latihan-latihan dengan sempuma.

2. Latihan Teknik
Latihan teknik bertujuan untuk mempermahir penguasaan keterampilan gerak dalam suatu cabang olahraga, seperti teknik menendang, melempar, memukul, menangkap, menggiring bola, lari dan sebagainya. Penguasaan keterampilan dari teknik-teknik dasar sangatlah penting karena akan menentukan kemahiran melakukan keseluruhan gerak dalam suatu cabang olahraga.

3. Latihan Taktik
Latihan taktik bertujuan untuk mengembangkan dan menumbuhkan daya tafsir pada atlet ketika melaksanakan kegiatan olahraga yang bersangkutan. Yang dilatih adalah pola-pola permainan, strategi dan taktik penyerangan serta pertahanan. Taktik akan bisa berjalan mulus jika atlet memiliki kecerdasan yang baik pula.

3. Latihan Mental
Latihan mental sama pentingnya dengan ketiga aspek diatas. Sebab, betapa sempurnanya pun perkembangan fisik, teknik, serta taktik atlet apabila mentalnya tidak turut berkembang, maka prestasi yang tinggi tidak mungkin akan dapat dicapai. Latihan mental adalah latihan yang lebih menitik beratkan pada perkembangan kedewasaan serta emosional atlet, seperti semangat bertanding, sikap pantang menyerah, keseimbangan emosi terutama bila berada dalam situasi stress yang kompleks.

Dalam proses latihan perlu dilakukan secara terstruktur, rapi dan terencana dengan baik agar mendapatkan hasil yang maksimal. Menurut Sajoto (1995:7) apabila seseorang ingin mencapai suatu prestasi yang maksimal hendaknya memiliki kelengkapan sebagai berikut :

  • Pengembangan fisik (Physical Build-Up)
  • Pengembangan teknik (Technical Build-Up)
  • Pengembangan mental (Mental Build-Up)
  • Kematangan juara


Metode latihan adalah kunci keberhasilan dalam latihan itu sendiri dan merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh dalam berlangsung nya latihan. Oleh karena itu metode latihan harus memiliki patokan agar tujuan latihan menjadi tepat sasaran sesuai kondisi yang dibutuhkan atlet dan juga tidak membebani atlet sehingga memiliki prestasi yang gemilang. Adapun metode atau dasar pembuatan program latihan tersebut ialah:

1. Intensitas
Menurut karnoven dalam Harsono (1988:115) Intensitas latihan dapat diukur dengan berbagai cara. Yang paling mudah adalah dengan cara mengukur denyut nadi. Cara pengukuran yang nampaknya lebih sesuai untuk dijadikan pedoman adalah teori Katch dan Meardle dalam Harsono (1988:116).

  • Intensitas latihan dapat diukur dengan cara menghitung denyut nadi dengan rumus

Denyut nadi maksimal (DNM) = 220-umur (dalam tahun).
Jadi, seseorang yang berumur 20 tahun,
DNM nya = 220-20 =200 denyut / menit
  • Takaran intensitas latihan :

Untuk olahraga prestasi : antara 80%-90% dari DNM. Jadi bagi atlet yang berumur 20 tahun tersebut, takaran intensitas yang harus dicapainya dalam latihan adalah 80%-90% dari 200 = 160 sampai dengan 180 denyut nadi / menit

Untuk olahraga kesehatan : antara 75%-85% dari DNM. Jadi, untuk orang yang berumur 40 tahun yang berolahraga sekedar untuk menjaga kesehatan dan kondisi fisik, takaran intensitas latihannya sebaiknya adalah 70%-85% x (220-40), sama dengan 126 sampai 153 denyut nadi/menit.

Lamanya latihan
a. Untuk olahraga prestasi : 45-120 menit
b. Untuk olahraga kesehatan : 20-30 menit

2. Volume
Volume adalah ukuran untuk menunjukkan kuantitas (jumlah) suatu rangsang dalam latihan. Dan volume dapat ditentukan dengan cara melihat jumlah set, repetisi.

3. Durasi
Durasi adalah ukuran yang menunjukkan lamanya waktu perangsangan atau waktu lamanya latihan. Durasi yang dibutuhkan penulis dalam pembuatan program latihan ini mengacu pada pembuatan program latihan menurut Harsono (1988:117) yaitu 45-120 menit untuk olahraga prestasi.

4. Frekuensi
Menurut Sajoto (1988:138) Frekuensi adalah beberapa kali seseorang melakukan latihan yang cukup intensif dalam satu minggunya. Untuk latihan sepakbola/anaerobic frekuensi 3 kali perminggu cukup efektif.

5. Variasi latihan
Menurut ganesha putra (2010:67) perlu adanya variasi latihan dalam membuat sebuah program latihan. Contohnya variasi di pemanasan dengan melakukan peregangan statis, dinamis, senam samba dan latihan dengan bola menyesuaikan latihan inti.

6. Set
Menurut sajoto (1995:34) set adalah suatu rangkaian kegiatan dari satu repetisi.

7. Repetisi
Menurut Harsono (1988:115) repetisi adalah jumlah ulangan untuk setiap butir (item) latihan. Menurut Lee E. Brown dkk (2005:4) Pada penetapan repetisi ini sesuai dengan kemampuan fisik atietjadi penulis melakukan test awal, didapat data atlet mampu melakukan 2 repetisi yaitu ± 156 kali/menit. Jadi peneliti mengambil 2 repetisi dalam pembuatan program latihan tanpa mengesampingkan atau mengabaikan intensitas yang telah diukur melalui denyut nadi atlet.

8. Recovery
Waktu recovery adalah waktu istirahat pada saat antar set atau repetisi. Menurut (Lee E. Brown dkk 2005:224) waktu istirahat antar set yaitu 1:3 atau 1:4. Maksudnya yaitu jika atlet melakukan latihan selama 20 detik maka atlet dapat isitrahat selama 60 atau 80 detik.

Nah itulah penjelasan mengenai bentuk dan manfaat latihan menggunakan ladder agility.

0 komentar

Post a Comment

Silahkan dibagikan bila ini bermanfaat dan bila ingin copas harap sertakan sumbernya. Bila berkenan hubungi admin kami melalui email. Terimakasih sudah berkunjung di blog kami.