Kamis, 03 Agustus 2017

ORANG TUA ASUH DALAM PEMBINAAN SEPAKBOLA USIA DINI

Pencetak gol terbanyak / top skor pada piala menpora zona DIY

ORANG TUA ASUH DALAM PEMBINAAN SEPAKBOLA USIA DINI


Sekolah Sepakbola (SSB) saat ini tumbuh menjamur di banyak tempat. Hampir di setiap lapangan sepakbola telah berdiri SSB. Sepakbola yang selama ini dikatakan sebagai olahraga murah ternyata tidak, dikarenakan anak-anak SSB dibebani banyak biaya. Biaya SPP, seragam, sepatu, dan yang paling mahal adalah biaya keikutsertaan turnamen. Selama ini, setiap turnamen menarik pendaftaran Rp. 500.000,- s.d. Rp. 1.000.000,- belum termasuk konsumsi selama turnamen, transportasi, bahkan akomodasi jika harus keluar kota. Disisi lain, SSB juga tidak mempunyai pemasukan selain SPP yang biasanya sudah habis digunakan untuk honor pelatih dan operasional bulanan. Jadi dapat dikatan bahwa beban biaya diserahkan sepenuhnya kepada siswa SSB.

Setiap SSB seharusnya lebih mementingkan penjaringan siswa yang mempunyai potensi dan bakat walaupun siswa tersebut tidak mampu secara ekonomi, apalagi anak-anak dari panti asuhan. Akan tetapi SSB tidak akan mampu jika harus menopang semua kebutuhan siswa tidak mampu tersebut. Alternatif penyelesaiannya adalah dengan metode subsidi silang dan diperlukan kepedulian orang tua wali di lingkungan SSB tersebut.

SSB Maguwoharjo Putra (Matra) Sleman saat ini telah menjalankan hal tersebut diatas. Beberapa siswa yang tidak mampu dibebaskan SPP dan kebutuhannya disubsidi oleh orang tua wali yang mempunyai kemampuan. Bahkan orang tua wali SSB Matra telah melaksanakan program “orang tua asuh” bagi beberapa anak panti asuhan.

Edi Kembufelayo Wenda, anak berbakat sepakbola kelahiran 2009 asal Sentani, Jayapura salah satunya. Edi yang dijuluki “The Silent Boy” berhasil menjadi top score dalam Liga Sepakbola Pelajar Piala Menpora U9 wilayah DIY dengan 15 gol dari 8 pertandingan yang dilakoninya. Edi adalah anak panti asuhan yang sangat pendiam dan patuh. Kepatuhannya layak menjadi contoh bagi siswa SSB lainnya. Saking pendiamnya, pada satu pertandingan yang dilaksanakan pagi hari, Edi terlihat gelisah, saat ditanya apakah sudah sarapan, Edi menjawab, belum. Edi tidak mau meminta apapun, dia hanya mau menerima saat ditawari. Semua kebutuhan Edi dalam hal sepakbola sepenuhnya dipenuhi oleh SSB Matra dan orang tua wali. SSP dibebaskan, seragam latihan, seragam pertandingan, sepatu, dan juga biaya turnamen, semua gratis. Alhasil, Edi dapat mencapai prestasi yang membanggakan.

Tidak hanya Edi, ada beberapa siswa lain yang juga disubsisdi oleh SSB Matra dan orang tua wali. Dalam hal subsidi silang, tidak harus berupa uang. Konsumsi pertandingan misalnya. SSB Matra menerapkan “adat berbagi”. Bagi orang tua siswa yang mampu akan memberikan kotribusi konsumsi lebih banyak. Akan tetapi, di setiap turnamen yang diikuti, orang tua siswa yang berekonomi pas-pasan pun ternyata bersemangat ikut andil. Hal ini akan sangat meringankan beban biaya keikutsertaan turnamen. 

Jika sebuah SSB hanya menjaring siswa dengan kemapuan ekonomi diatas rata-rata, bagaimana dengan nasib anak-anak tidak mampu yang mempunyai bakat?

Ditulis oleh: Pramusetyo (Salah satu Orang tua wali SSB Matra)

0 komentar

Posting Komentar

Silahkan dibagikan bila ini bermanfaat dan bila ingin copas harap sertakan sumbernya. Bila berkenan hubungi admin kami melalui email. Terimakasih sudah berkunjung di blog kami.